Hari Kamis (27/10) ini adalah hari kedelapan menjelang lebaran. Menurut prediksi seorang pejabat di Pelabuhan Tanjung Priok, mulai hari inilah penumpang akan membludak.
Orang-orang akan mulai bertumpuk-tumpukan memasuki moda transportasinya masing-masing. Dalam kasus Tanjung Priok, tentunya yang saya maksud adalah kapal laut. Bukan sepeda onthel. Karena sepeda onthel tak cocok dipakai mudik.
Kenapa? Karena mudik tidak seru tanpa membawa juga tumpukan oleh-oleh. Hasil jerih payah di ibukota, katanya. Maka diangkutlah dus-dus, tas-tas, bungkusan, dan apapunlah yang berisi oleh-oleh. Nantinya oleh-oleh itu dibagikan pada sanak saudara yang masih ada di kampung sana. Atau ditukarkan dengan sanak saudara yang juga mudik.
Mudik, adalah bagian dari budaya. Bukan ritual religi. Tak ada dalam ayat kitab suci umat islam, pemilik hari raya idul fitri, yang memerintahkan mudik. Yang ada, silaturahmi. Tapi kitab suci juga memerintahkan untuk tidak mubazir, karena pelakunya adalah rekan setan, katanya.
Jadi, janganlah bermubazir ria ketika melepaskan diri dari ramadhan! Komitmen ramadhan Anda justru terlihat dari cara merayakan idul fitri itu. Oh ya? Denger-denger, tingkat konsumsi justru meningkat di bulan ramadhan -bulan menahan diri!
Huhuhuh. Mengutip seorang kawan, “Mudiko ergo sum!” Jadi yah, bagi perantau, mudik tampaknya sudah menjadi ritual!